Kamis, 16 Agustus 2012

Cinta memberi tanpa diminta




Candra Malik - Samudera Debu

Suwarga durung weruh
Neraka durung wanuh
Mung donya sing aku weruh
Uripku ojo duwe mungsuh

Rikat bumi rikat nyawa
Ana begja ana cilaka
Ana urip ana mati
Percil widyaka ing pati

Samudera sebagai tintanya
Daunan sejagat raya

Cukup cukupkah
Pena kertasnya bercerita?

Aku membaca
Aku mengolah rasa

Siang dan malam silih berganti
Cinta memberi tanpa diminta

Pagi dan petang, pergi dan datang
Rindu menjaga tiada jeda dan lena

Menyebarkan Cinta
Di dunia yang semakin gila
Di tengah para pendusta
Yang penuh dengan angkara

Kuharap semesta raya 'kan mendengarkan aku
Semoga angin malam membawa rinduku

Rindu saat-saat kita berbagi rasa,
Tanpa ada prasangka dan juga saling curiga,
Di bawah satu matahari, matahari yang sama
Menjaga Cinta Kasih sebagai anak manusia

Senenge sak klenteng
Susahe sak rendeng
Ojo seneng nek duwe
Ojo susah nek ra duwe

Umpluking samudro
Kethuk ing sambikala
Laku lampah saderma
Aja gumede aja jumawa

Aku membaca
Aku mengolah rasa

Walau pun debu sebagai aksaranya
Untuk tuliskan makna Sang Maha Cinta

Suluk wayang kulit by Sudjiwotedjo

Siang dan malam silih berganti
Cinta memberi tanpa diminta

Pagi dan petang, pergi dan datang
Rindu menjaga tiada jeda dan lena.

Siang dan malam silih berganti,
Cinta memberi tanpa diminta

Pagi dan petang pergi dan datang
Rindu menjaga tiada jeda dan lena

Selasa, 19 April 2011

Kelak, nak, kau musti jelajahi seisi negeri.


Di Aceh kau bisa menikmati tari seudati dan berteguk-teguk kopi. lalu pada sepanjang Bukit Barisan, banyak kau jumpai ngarai dan danau. Dan pantainya nak, ada satu yang tak pernah ayah lupa, adalah Tanjung Tinggi di pulau Belitung yang indahnya serupa lukisan.

Jika sampai ke tanah Jawa, singgahlah dulu ke pantai Bayah yang dipenuhi batu-batu alam nan elok. O ya nak, tak jauh dari situ, bisa pula kau jumpai saudara-saudara kita suku Baduy yang masih erat menjaga tradisi kakek moyang kita yang mulia.

Engkau telah berdiri di tatar Pasundan, nak. Bukalah mata, telinga dan hatimu, untuk menikmati bunyi angklung, degung, dan lekuk-liku suara penyanyinya yang memabukkan. Terus berjalan ke timur nak, maka akan kau jumpai borobudur, prambanan, suara gamelan dan sejumlah tari-tarian yang penuh kelembutan.

O ya, nak. Jangan lupa, mampirlah sebentar ke Kecamatan Sukolilo, di sana ada saudara-sadara kita warga Sedulur Sikep yang lebih dikenal sebagai “orang Samin”, mereka itulah nak yang pernah membuat malu hati ayah, lantaran mereka yang oleh negara “didakwa” tak punya agama, nyatanya lebih agamis dalam menjalani kehidupannya.

Terus berjalan ke timur, nak. Akan kau jumpai gunung gunung cantik, reog ponorogo, karapan sapi, dan tentu saja ludruk yang sarat ujar-ujar. Jika sempat, naiklah kapal ke utara, di bumi borneo mungkin saja masih kau temui hutan raya yang dulu dibabati para pemegang hph. Tapi ayah yakin, di sana kau masih bisa menyaksikan upacara suku dayak, orang utan, dan anggrek aneka rupa.

Ayah lupa nak, kau perlu juga menjenguk kenangan masa kecil saat kau bersama ayah mengelilinmgi pulau Bali. Ya, ya… pantai Kuta, Sanur, Tanah Lot, Bedugul, tari janger, trunyan, dan tentu pula tari legong yang sudah menyebar ke negara manca.

Teruslah berjalan nak, terus ke timur, ke tanah yang kurang terperhatikan orang-orang Jakarta yang lebih mabuk kuasa ketimbang mengangkat derajat saudara-saudara kita di bagian timur negeri. Wayang sasak, komodo, upacara nyalamak di laut, perburuan paus, upacara nyale, adalah keindahan yang ditawarkan oleh tanah ini.

Teruslah melangkah, nak. Sulawesi, ya, itu negerimu juga, ayah pernah hingga ke pantai bira, bulukumba tempat para petualang membangun kapal-kapal phinisi. Ya, teruslah melaju ke timur negeri, hingga ke papua untuk menyantap keindahan raja ampat, hutan-hutan perawan, serta aneka tumbuhan berkhasiat.

sungguh nak, ini semua milik kita. Jika sebagian di antaranya telah tergadai pada pemodal asing, jangan ragu, rebut kembali dari tangan mereka. Sebab semua yang kau punya, adalah hak dan juga takdirmu sebagai penghuni negeri ini. Sungguh, nak, kami dan juga pemimpin-pemimpin kami, pernah tak berdaya justru karena ketamakan kami yang telah melalap mentah-mentah uang utang tanpa pernah ingat bahwa kami juga memiliki engkau, anak keturunan kami.


dikutip dari Kompas.com
Jodhi Yudono | Minggu, 17 April 2011 | 17:28 WIB